الحمد لله الذى خصَّ حبيبنا وسيدنا محمد صلى الله عليه وسلم بأشرف المناصب والمراتب .
أشهد أن لآ إله إلا الله وحده لاشريك له رب المشارق والمغارب ، وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله المبعوث إلى سآئر الأعاجم والأعارب .
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أولى المعاثر والمناقب .
أما بعد ، قال الله سبحانه وتعالى فى القرآن الكريم ، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم ، بسم الله الرحمن الرحيم ، قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Alhamdulillah, Bapak² ibu² Rohimakumulloh pagi ini kita mendapatkan kesempatan emas dari Alloh yaitu dapat hadir di ruangan ini guna bersama menelaah dan mengkaji ilmu² Alloh SWT. Yang oleh Rosululloh Muhammad SAW diistilahkan dengan taman surga.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya, ”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.”
Al-Hafidz Ibnu Hajar -rahimahullah- menerangkan :
يُطْلَقُ عَلَى الْمُوَاظَبَةِ عَلَى الْعَمَلِ بِمَا أَوْجَبَهُ أَوْ نَدَبَ إِلَيْهِ كَالتِّلَاوَةِ، وَقِرَاءَةِ الْأَحَادِيثِ، وَدَرْسِ الْعِلْمِ، وَالنَّفْلِ بِالصَّلَاةِ.
“Dzikir digunakan untuk menyebut membiasakan melakukan amal-amal ibadah yang wajib ataupun yang sunnah, seperti membaca Al-Qur’an, membaca Hadis, belajar agama dan shalat-shalat sunah.”
Jadi kumpulan² semacam ini adalah Taman Surga, meskipun minuman, makanan, bentuk orang²nya bukan dari surga.
Kalau makanan minuman surga kita tidak perlu repot² membuka tutup botol. Tidak perlu repot² ambil piring, diisi nasi, dikasih kuah, diberi lauk ayam, lele, bebek, sampaiiiii munjuk penuh sampai² tepi piringnya ndak kelihatan. Habis itu malah ndak kemakan. Lha wong lihat tok sudah kelempoken.
Kalau makanan surga ndak usah repot² ambil, makan apapun, berapapun jumlahnya tidak akan kelempoken.
Begitu juga penghuni surga, juga ndak seperti kita. Mau berangkat digerojok parfum. Rambut dikasih parfum, tubuh diguyang pardum, baju disemprot parfum, bawahan di siram parfum, bahkan sepatupun digosok parfum. Lho sampai dikantorpun kadang masih disemprot lagi dengan parfum. Lebih² kalau berangkatnya pakai sepeda motor. Baru sampai di jalan raya, disalib truk sampah. Ya sudaaaah, ambyar, hilang musnah seluruh parfum yang digunakan tadi.
Kalau penduduk surga, ndak usah pakai parfum sudah harum. Bahkan aroma keringatnyapun bisa mengalahkan wangi parfum yang paling mahal di dunia. Padahal di dunia aroma keringat itu bisa membuat orang semaput. Meskipun itu dari pasangannya sendiri. Sama.....bisa bikin semaput. Ya...cuma dibetah²kan akhirnya ndak sampai semaput.
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ أهْلَ الجَنَّةِ يَأْكُلُونَ فيها ويَشْرَبُونَ، ولا يَتْفُلُونَ ولا يَبُولونَ ولا يَتَغَوَّطُونَ ولا يَمْتَخِطُونَ قالوا: فَما بالُ الطَّعامِ؟ قالَ: جُشاءٌ ورَشْحٌ كَرَشْحِ المِسْكِ، يُلْهَمُونَ التَّسْبِيحَ والتَّحْمِيدَ، كما تُلْهَمُونَ النَّفَس
“Sesungguhnya penduduk surga, mereka makan dan minum di dalam surga, namun mereka tidak meludah, tidak kencing, tidak buang air besar, dan tidak mengeluarkan dahak.”
Para sahabat bertanya: ‘Lalu bagaimana nasib makanan di perut mereka?’
Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Menjadi sendawa, dan keringat yang berbau misk. Mereka diilhami selalu bertasbih dan bertahmid, sebagaimana kalian selalu bernafas.” (HR. Muslim, no. 2835).
Nah, halaqah² yang disitu dibacakan ayat² quran, hadits² nabi, dibahas ilmu² agama, itu merupakan Taman² surga di dunia. Rosululloh memerintahkan kita jika melihat kumpulan² semacam itu agar ikut duduk di dalamnya. Rosululloh bersabda :
لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ المَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عليهمِ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَن عِنْدَهُ
"Tidak duduk sekelompok orang yang melaksanakan zikir kepada Allah azza wa jalla, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat Allah meliputi mereka, ketenangan turun kepada mereka dan Allah s.w.t. menyebut nama mereka di hadapan para malaikat yang ada pada sisi-Nya. (HR. Muslim, 2700).
Inilah yang sangat kita butuhkan di zaman sekarang, zaman yang penuh dengan kompleksitas. Yang dalam KBBI diartikan keruwetan.
1. Kadang kita merasa bahagia tanpa alasan, atau sedih meskipun semua tampak baik.
2. Interaksi dengan orang lain — keluarga, teman, pasangan, kolega — bisa menjadi sumber kebahagiaan maupun konflik.
3. Terkadang kita harus memilih antara dua hal yang sama-sama penting.
4. Banyak orang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memahami apa arti hidup, tujuan pribadi, atau nilai-nilai yang ingin mereka jalani.
5. Hidup tidak pernah benar-benar bisa direncanakan dengan sempurna. Perubahan bisa datang kapan saja — entah dalam bentuk kesempatan atau tantangan.
Ini semua membutuhkan yang dinamakan KETENANGAN JIWA. Dan itu akan didapat, salah satunya dengan sering menghadiri Majelis² Dzikir. Baik :
Majelis Dzikir Lisan seperti majelis yang disitu dibaca bersama² ayat² Al Qur'an, bacaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Sholawat dlsb.
Atau Majelis Dzikir Hati dan Pikiran seperti majelis ilmu
Ataupun Majelis Dzikir Anggota Badan seperti Gerakan memberi santunan, sumbangan, dlsb.
Namun yang paling utama adalah meneladani Rosululloh Muhammad Saw ketika menghadapi masalah yang rumit dan kompleks. Diantaranya :
1. Menguatkan Hubungan dengan Allah (Spiritualitas)
Rasulullah selalu memulai dengan memperkuat hubungan dengan Allah: dengan shalat malam (qiyamul lail), doa yang khusyuk, dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Contoh: Saat menjelang Perang Badar, Rasulullah ﷺ bermunajat sepanjang malam, berdoa dengan tangisan:
“Ya Allah, jika pasukan ini binasa, tidak akan ada lagi yang menyembah-Mu di muka bumi.”
2. Sabar dan Teguh, Bukan Lari dari Masalah
Ketika dihina, disakiti, dan diancam, Rasulullah tetap tenang, tidak membalas dengan kebencian, tetapi bersabar dan tetap fokus pada misi besarnya.
Contoh: Di Thaif, Rasulullah dilempari batu hingga berdarah. Namun ketika malaikat Jibril menawarkan untuk membinasakan kota itu, beliau menolak dan berkata:
“Semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah-Nya.”
Makna: Fokus jangka panjang lebih penting daripada reaksi sesaat.
3. Menjaga Akhlak dan Etika, Meski dalam Krisis
Di tengah tekanan, Rasulullah tetap menjaga kejujuran, kelembutan, dan kasih sayang. Beliau tidak pernah menghalalkan segala cara, meskipun dalam kondisi genting.
Contoh: Dalam penaklukan Makkah, Rasulullah tidak membalas dendam pada orang-orang Quraisy yang dulu menyakitinya. Sebaliknya, beliau memaafkan mereka dan berkata:
“Hari ini tidak ada balasan atas kalian. Kalian bebas.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar