1. Riya: Melakukan kebaikan bukan karena Allah, melainkan untuk mendapatkan pujian atau perhatian dari orang lain.
2. Ujub: Merasa kagum dan terlalu tinggi terhadap diri sendiri karena amal yang telah dilakukan, sehingga merusak nilainya.
3. Hasad: Merasa tidak senang atas kebahagiaan orang lain dan berusaha agar kebahagiaan tersebut hilang.
4. Ghibah: Membicarakan keburukan orang lain saat orang tersebut tidak hadir atau tidak bisa membela diri, sehingga pahala kebaikan pelaku bisa dipindahkan kepada orang yang digunjingkan.
5. Dzalim: Melakukan kezaliman terhadap orang lain, baik dengan perkataan maupun perbuatan, yang dapat mengakibatkan kebangkrutan amalan di akhirat.
6. Syirik dan Murtad: Menyekutukan Allah dalam beribadah atau keluar dari agama Islam, yang secara langsung membatalkan semua amal yang pernah dilakukan.
7. Cinta Dunia (Hubbun Dunya): Terlalu terikat dan fokus pada kenikmatan dunia sehingga melupakan tujuan akhirat, bahkan membuat seseorang menjadi malas beramal dan menunda-nunda tobat.
8. Marah: Emosi yang meluap-luap dan tidak terkendali dapat menyebabkan gugurnya amalan-amalan shalih.
Perbuatan-perbuatan ini dapat menggugurkan keikhlasan dan bahkan memindahkan pahala kebaikan kepada orang yang dirugikan atau justru menyebabkan pelaku menanggung dosa orang lain di hari akhir.
Lantas Bagaimana Agar Amal Diterima Alloh ?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam suroh Al-Mu’minun/23: 57-61
إِنَّ ٱلَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka," (57)
Makna: Orang yang benar-benar beriman merasa takut kepada Allah bukan hanya karena azab-Nya, tetapi juga karena rasa hormat, pengagungan, dan kesadaran akan kelemahan dirinya.
Tafsir : Agar amal diterima Alloh, harus dilandasi perasaan takut kepada Alloh. Baik takut siksaan Alloh, takut amalnya tidak diterima Alloh, atau takut tidak diridhoi Alloh.
وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايَـٰتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ
"Dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Tuhan mereka," (58)
Makna: Mereka mengimani wahyu yang diturunkan, baik dalam bentuk Al-Qur'an maupun alam semesta.
Tafsir : Agar amal diterima Alloh, harus didasari keimanan kepada Alloh. Yaitu benar² patuh, tunduk, dan bakti kepada Alloh.
وَٱلَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ
"Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Tuhan mereka (dengan sesuatu apa pun)," (59)
Makna: Tauhid yang murni adalah fondasi keimanan. Mereka tidak menyekutukan Allah, baik dalam ibadah, keyakinan, maupun niat.
Tafsir : Agar amal diterima Alloh, harus benar² murni karena Alloh, bukan karena yg lain. Baik pamer, sombong, sungkan dan lain sebagainya.
وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ
"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka," (60)
Makna: Mereka memberi (beramal) namun hatinya takut karena merasa amalnya belum tentu cukup atau diterima.
Tafsir : Agar amal diterima Alloh, harus didasari pengharapan besar kepada Alloh agar amalnya diterima.
Kisah: Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ayat ini. Ia menyangka ayat ini tentang orang yang berbuat dosa. Tapi Nabi menjelaskan: "Bukan, wahai putri Abu Bakar. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, namun mereka takut (tidak diterima)." (HR. Tirmidzi).
أُو۟لَـٰٓئِكَ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَهُمْ لَهَا سَـٰبِقُونَ
"Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu mendapatkannya." (61)
Makna: Orang-orang ini tidak hanya melakukan amal saleh, tetapi mereka melakukannya dengan semangat tinggi, cepat, dan konsisten.
Tafsir: Mereka tidak menunda kebaikan, dan selalu mencari peluang berbuat baik. Mereka juga menjadi pelopor dalam amal.