Selasa, 30 September 2025

Contoh Perilaku yang Merusak Amal

1. RiyaMelakukan kebaikan bukan karena Allah, melainkan untuk mendapatkan pujian atau perhatian dari orang lain. 

2. UjubMerasa kagum dan terlalu tinggi terhadap diri sendiri karena amal yang telah dilakukan, sehingga merusak nilainya. 

3. HasadMerasa tidak senang atas kebahagiaan orang lain dan berusaha agar kebahagiaan tersebut hilang. 

4. GhibahMembicarakan keburukan orang lain saat orang tersebut tidak hadir atau tidak bisa membela diri, sehingga pahala kebaikan pelaku bisa dipindahkan kepada orang yang digunjingkan. 

5. DzalimMelakukan kezaliman terhadap orang lain, baik dengan perkataan maupun perbuatan, yang dapat mengakibatkan kebangkrutan amalan di akhirat. 

6. Syirik dan Murtad: Menyekutukan Allah dalam beribadah atau keluar dari agama Islam, yang secara langsung membatalkan semua amal yang pernah dilakukan. 

7. Cinta Dunia (Hubbun Dunya): Terlalu terikat dan fokus pada kenikmatan dunia sehingga melupakan tujuan akhirat, bahkan membuat seseorang menjadi malas beramal dan menunda-nunda tobat. 

8. MarahEmosi yang meluap-luap dan tidak terkendali dapat menyebabkan gugurnya amalan-amalan shalih. 

Perbuatan-perbuatan ini dapat menggugurkan keikhlasan dan bahkan memindahkan pahala kebaikan kepada orang yang dirugikan atau justru menyebabkan pelaku menanggung dosa orang lain di hari akhir. 

Lantas Bagaimana Agar Amal Diterima Alloh ?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam suroh Al-Mu’minun/23: 57-61

إِنَّ ٱلَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka," (57)

Makna: Orang yang benar-benar beriman merasa takut kepada Allah bukan hanya karena azab-Nya, tetapi juga karena rasa hormat, pengagungan, dan kesadaran akan kelemahan dirinya.

Tafsir : Agar amal diterima Alloh, harus dilandasi perasaan takut kepada Alloh. Baik takut siksaan Alloh, takut amalnya tidak diterima Alloh, atau takut tidak diridhoi Alloh.

وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايَـٰتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ

"Dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Tuhan mereka," (58)

Makna: Mereka mengimani wahyu yang diturunkan, baik dalam bentuk Al-Qur'an maupun alam semesta.

Tafsir : Agar amal diterima Alloh, harus didasari keimanan kepada Alloh. Yaitu benar² patuh, tunduk, dan bakti kepada Alloh.

وَٱلَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ

"Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Tuhan mereka (dengan sesuatu apa pun)," (59)

Makna: Tauhid yang murni adalah fondasi keimanan. Mereka tidak menyekutukan Allah, baik dalam ibadah, keyakinan, maupun niat.

Tafsir : Agar amal diterima Alloh, harus benar² murni karena Alloh, bukan karena yg lain. Baik pamer, sombong, sungkan dan lain sebagainya.

وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ

"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka," (60)

Makna: Mereka memberi (beramal) namun hatinya takut karena merasa amalnya belum tentu cukup atau diterima.

Tafsir :  Agar amal diterima Alloh, harus didasari pengharapan besar kepada Alloh agar amalnya diterima.

Kisah: Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ayat ini. Ia menyangka ayat ini tentang orang yang berbuat dosa. Tapi Nabi menjelaskan: "Bukan, wahai putri Abu Bakar. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, namun mereka takut (tidak diterima)." (HR. Tirmidzi).

أُو۟لَـٰٓئِكَ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَهُمْ لَهَا سَـٰبِقُونَ

"Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu mendapatkannya." (61)

Makna: Orang-orang ini tidak hanya melakukan amal saleh, tetapi mereka melakukannya dengan semangat tinggi, cepat, dan konsisten.

Tafsir: Mereka tidak menunda kebaikan, dan selalu mencari peluang berbuat baik. Mereka juga menjadi pelopor dalam amal.

Senin, 29 September 2025

Majelis Ilmu & Teladan Rasul Saat Menghadapi Kompleksitas Kehidupan

 الحمد لله الذى خصَّ حبيبنا وسيدنا محمد صلى الله عليه وسلم بأشرف المناصب والمراتب .

أشهد أن لآ إله إلا الله وحده لاشريك له رب المشارق والمغارب ، وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله المبعوث إلى سآئر الأعاجم والأعارب .
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أولى المعاثر والمناقب .
أما بعد ، قال الله سبحانه وتعالى فى القرآن الكريم ، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم ، بسم الله الرحمن الرحيم ، قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Alhamdulillah, Bapak² ibu² Rohimakumulloh pagi ini kita mendapatkan kesempatan emas dari Alloh yaitu dapat hadir di ruangan ini guna bersama menelaah dan mengkaji ilmu² Alloh SWT. Yang oleh Rosululloh Muhammad SAW diistilahkan dengan taman surga.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya, ”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.”

Al-Hafidz Ibnu Hajar -rahimahullah- menerangkan :

يُطْلَقُ عَلَى الْمُوَاظَبَةِ عَلَى الْعَمَلِ بِمَا أَوْجَبَهُ أَوْ نَدَبَ إِلَيْهِ كَالتِّلَاوَةِ، وَقِرَاءَةِ الْأَحَادِيثِ، وَدَرْسِ الْعِلْمِ، وَالنَّفْلِ بِالصَّلَاةِ.

“Dzikir digunakan untuk menyebut membiasakan melakukan amal-amal ibadah yang wajib ataupun yang sunnah, seperti membaca Al-Qur’an, membaca Hadis, belajar agama dan shalat-shalat sunah.”

Jadi kumpulan² semacam ini adalah Taman Surga, meskipun minuman, makanan, bentuk orang²nya bukan dari surga.

Kalau makanan minuman surga kita tidak perlu repot² membuka tutup botol. Tidak perlu repot² ambil piring, diisi nasi, dikasih kuah, diberi lauk ayam, lele, bebek, sampaiiiii munjuk penuh sampai² tepi piringnya ndak kelihatan. Habis itu malah ndak kemakan. Lha wong lihat tok sudah kelempoken.

Kalau makanan surga ndak usah repot² ambil, makan apapun, berapapun jumlahnya  tidak akan kelempoken.

Begitu juga penghuni surga, juga ndak seperti kita. Mau berangkat digerojok parfum. Rambut dikasih parfum, tubuh diguyang pardum, baju disemprot parfum, bawahan di siram parfum, bahkan sepatupun digosok parfum. Lho sampai dikantorpun kadang masih disemprot lagi dengan parfum. Lebih² kalau berangkatnya pakai sepeda motor. Baru sampai di jalan raya, disalib truk sampah. Ya sudaaaah, ambyar, hilang musnah seluruh parfum yang digunakan tadi.

Kalau penduduk surga, ndak usah pakai parfum sudah harum. Bahkan aroma keringatnyapun bisa mengalahkan wangi parfum yang paling mahal di dunia. Padahal di dunia aroma keringat itu bisa membuat orang semaput. Meskipun itu dari pasangannya sendiri. Sama.....bisa bikin semaput. Ya...cuma dibetah²kan akhirnya ndak sampai semaput.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ أهْلَ الجَنَّةِ يَأْكُلُونَ فيها ويَشْرَبُونَ، ولا يَتْفُلُونَ ولا يَبُولونَ ولا يَتَغَوَّطُونَ ولا يَمْتَخِطُونَ قالوا: فَما بالُ الطَّعامِ؟ قالَ: جُشاءٌ ورَشْحٌ كَرَشْحِ المِسْكِ، يُلْهَمُونَ التَّسْبِيحَ والتَّحْمِيدَ، كما تُلْهَمُونَ النَّفَس

“Sesungguhnya penduduk surga, mereka makan dan minum di dalam surga, namun mereka tidak meludah, tidak kencing, tidak buang air besar, dan tidak mengeluarkan dahak.”
Para sahabat bertanya: ‘Lalu bagaimana nasib makanan di perut mereka?’
Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Menjadi sendawa, dan keringat yang berbau misk. Mereka diilhami selalu bertasbih dan bertahmid, sebagaimana kalian selalu bernafas.” (HR. Muslim, no. 2835).

Nah, halaqah² yang disitu dibacakan ayat² quran, hadits² nabi, dibahas ilmu² agama, itu merupakan Taman² surga di dunia. Rosululloh memerintahkan kita jika melihat kumpulan² semacam itu agar ikut duduk di dalamnya. Rosululloh bersabda :

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ المَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عليهمِ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَن عِنْدَهُ

"Tidak duduk sekelompok orang yang melaksanakan zikir kepada Allah azza wa jalla, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat Allah meliputi mereka, ketenangan turun kepada mereka dan Allah s.w.t. menyebut nama mereka di hadapan para malaikat yang ada pada sisi-Nya. (HR. Muslim, 2700).

Inilah yang sangat kita butuhkan di zaman sekarang, zaman yang penuh dengan kompleksitas. Yang dalam KBBI diartikan keruwetan.

1. Kadang kita merasa bahagia tanpa alasan, atau sedih meskipun semua tampak baik.

2. Interaksi dengan orang lain — keluarga, teman, pasangan, kolega — bisa menjadi sumber kebahagiaan maupun konflik.

3. Terkadang kita harus memilih antara dua hal yang sama-sama penting.

4. Banyak orang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memahami apa arti hidup, tujuan pribadi, atau nilai-nilai yang ingin mereka jalani.

5. Hidup tidak pernah benar-benar bisa direncanakan dengan sempurna. Perubahan bisa datang kapan saja — entah dalam bentuk kesempatan atau tantangan.

Ini semua membutuhkan yang dinamakan KETENANGAN JIWA. Dan itu akan didapat, salah satunya dengan sering menghadiri Majelis² Dzikir. Baik :

Majelis Dzikir Lisan seperti majelis yang disitu dibaca bersama² ayat² Al Qur'an, bacaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Sholawat dlsb.

Atau Majelis Dzikir Hati dan Pikiran seperti majelis ilmu

Ataupun Majelis Dzikir Anggota Badan seperti Gerakan memberi santunan, sumbangan, dlsb.

Namun yang paling utama adalah meneladani Rosululloh Muhammad Saw ketika menghadapi masalah yang rumit dan kompleks. Diantaranya :

1. Menguatkan Hubungan dengan Allah (Spiritualitas)

Rasulullah selalu memulai dengan memperkuat hubungan dengan Allah: dengan shalat malam (qiyamul lail), doa yang khusyuk, dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Contoh: Saat menjelang Perang Badar, Rasulullah ﷺ bermunajat sepanjang malam, berdoa dengan tangisan:
“Ya Allah, jika pasukan ini binasa, tidak akan ada lagi yang menyembah-Mu di muka bumi.”

2. Sabar dan Teguh, Bukan Lari dari Masalah

Ketika dihina, disakiti, dan diancam, Rasulullah tetap tenang, tidak membalas dengan kebencian, tetapi bersabar dan tetap fokus pada misi besarnya.

Contoh: Di Thaif, Rasulullah dilempari batu hingga berdarah. Namun ketika malaikat Jibril menawarkan untuk membinasakan kota itu, beliau menolak dan berkata:

“Semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah-Nya.”

Makna: Fokus jangka panjang lebih penting daripada reaksi sesaat.

3. Menjaga Akhlak dan Etika, Meski dalam Krisis

Di tengah tekanan, Rasulullah tetap menjaga kejujuran, kelembutan, dan kasih sayang. Beliau tidak pernah menghalalkan segala cara, meskipun dalam kondisi genting.

Contoh: Dalam penaklukan Makkah, Rasulullah tidak membalas dendam pada orang-orang Quraisy yang dulu menyakitinya. Sebaliknya, beliau memaafkan mereka dan berkata:

“Hari ini tidak ada balasan atas kalian. Kalian bebas.”

Sabtu, 28 Juni 2025

3 Tingkatan Ikhlas

 (قوله إخلاص العمل) اعلم إن الإخلاص له ثلاث درجات .

الأولى أن تعبد الله أو تعمل شيئا لا طمعا فى الثواب ولاهربا من العقاب . بل لكونه إلهك وأنت عبده . وهذا أعلاها .
والثانية أن تعبده أو تعمل بطاعته طلبا للثواب وخوفا من العقاب ، أو طمعا فى الجنة وخوفا من النار . وهى الوسطى .
الثالثة أن تعبده لتتشرف بعبادته ، وتنسب إليه تعالى فيقال هذا عابد وصالح . أو تعمل لتحصيل الدنيا . كما إذا قرأت سورة الواقعة للغنى ونحوها. وهو أدناها . فإذا عملت للريآء والسمعة كان حراما عليك لفقد الإخلاص .

شيخ نووى البنتنى
نور الظلام شرح عقيدة العوام ص ١٧٣

(Pernyataan Beliau -penyusun kitab Aqidatul Awam- : "Keikhlasan dalam melakukan amal ibadah") Ketahuilah bahwa keikhlasan memiliki tiga tingkatan.

Yang pertama adalah Anda menyembah Alloh atau melakukan amal ibadah bukan karena mengharapkan pahala atau untuk menghindari adzab, melainkan karena Dia adalah Tuhan Anda dan Anda adalah hamba-Nya. Ini adalah tingkatan yang tertinggi.

Yang kedua adalah Anda menyembah kepada Alloh atau melakukan amal ketaatan kepada-Nya karena mengharapkan pahala dan takut akan siksa. Atau karena mengharap surga dan takut akan api neraka. Ini adalah tingkatan menengah.

Yang ketiga adalah Anda menyembah kepada Alloh agar menjadi mulia dan agar dekat dengan-Nya. Sehingga Anda dijuluki sebagai ahli ibadah dan sholih.
Atau anda melakukan amal ibadah untuk mendapatkan harta dunia, seperti membaca Surat Al-Waqi'ah agar kaya. Atau yang semisalnya. Ini adalah tingkatan yang paling rendah.

Akan tetapi, jika Anda melakukan amal ibadah itu untuk pamer dan mendapatkan ketenaran, maka itu haram. Karena tidak ikhlas.

Kamis, 26 Juni 2025

Beribadah Tapi Senang Dipuji.....🤭

وَرَوَى وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِىِّ عَمَّنْ سَمِعَ مُجَاهِدًا يَقُولُ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّى أَتَصَدَّقُ بِالصَّدَقَةِ فَأَلْتَمِسُ بِهَا وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى وَأُحِبُّ أَنْ يُقَالَ لِى خَيْرٌ . فَنَزَلَتْ هَذِه الْآيَةُ {فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ} يَعْنِى مَنْ خَافَ الْمَقَامَ بَيْنَ يَدَىِ اللهِ تَعَالَى . وَيُقَالُ مَنْ كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ اللهِ {فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا} يَعْنِى خَالِصًا {وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا} (الكهف : ١١٠) .

Imam Waki’ meriwayatkan dari Imam Sufyan Ats Tsauri, dari seseorang yang pernah mendengar dari Imam Mujahid, beliau kata : “Seseorang menghadap kepada Nabi SAW dan berkata : “Ya Rasulallah, aku bersedekah karena Allah, tetapi aku juga senang jika disebut orang baik (dipuji). Lalu turunlah ayat :

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ

{Barangsiapa yang mengharap  berjumpa dengan Tuhannya} maksudnya adalah orang yang takut kepada Allah SWT. Ulama lain mengartikan {Barangsiapa yang menghendaki pahala dari Allah}

فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا

{maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh} maksudnya dengan ikhlas, 

وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

{dan janganlah menyekutukan Allah dengan apapun dalam ibadahnya} (Al-Kahfi 110)

(Tanbihul Ghofilin bab Ikhlas)

Sabtu, 21 Juni 2025

Dengan Siapa Aku Akan Menikah.....???🤔

جاء رجل إلى الحسن البصري رحمه الله فقال: إن لي بنتًا أحبها، وقد خطبها غير واحد، فمن تشير عليَّ أن أزوِّجها؟ قال: "زوِّجها رجلًا يتقي الله، فإنه إن أحبها أكرمها، وإن أبغضها لم يظلمها"؛ 

Seorang laki-laki datang kepada Al-Hasan Al-Basri dan berkata : Aku memiliki seorang putri yang sangat kucintai, dan telah dilamar oleh lebih dari satu lelaki. Dengan siapa engkau menyarankanku untuk menikahkannya ? Ia berkata : “Nikahkanlah dia dengan seorang lelaki yang takut kepada Allah, karena jika ia mencintainya, ia akan memuliakannya, dan jika ia membencinya, ia tidak akan menzaliminya.”

[شرح السنة للبغوي، ج: ٩، ص: ١١]

Contoh Perilaku yang Merusak Amal

1.  Riya :  Melakukan kebaikan bukan karena Allah, melainkan untuk mendapatkan pujian atau perhatian dari orang lain.  2. Ujub :  Merasa ka...